Materi Kelas XI Sem Ganjil

BAB I AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG

KOMPETISI DALAM KEBAIKAN

Al-Baqoroh 148

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya  yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah  kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian . Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Fathir : 32

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada  yang lebih dahulu berbuat kebaikan  dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.

BAB II AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG

MENYANTUNI KAUM DU’AFA

Al Baqoroh : 26-27

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu . Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan : “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?.” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah , dan dengan perumpamaan itu  banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,

orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah  untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi.  Mereka itulah orang-orang yang rugi.

Al Baqoroh 177

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir  dan orang-orang yang meminta-minta; dan  hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar ; dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

BAB III

BERIMAN KEPADA RASUL-RASUL ALLAH SWT

1. Pengertian

Beriman kepada rasul-rasul Allah adalah mempercayai bahwa Allah Swt telah mengutus beberapa rasul untuk menyampaikan risalah yang telah Allah swt tetapkan.

Perbedaan antara rasul dan nabi adalah jika seorang nabi hanya diberikan wahyu untuk dirinya sendiri, dan jika ada orang yang mengikutinya tidak ada salahnya. Sedangkan rasul adalah seseorang yang diberi wahyu oleh Allah selain untuk dirinya juga untuk disebarkan kepada seluruh umat manusia.

  1. Tanda-tanda beriman kepada rasul Allah Swt

Orang yang yakin atau beriman kepada rasul-rasul Allah swt akan selalu patuh dan taat kepada apa yang disampaikan oleh rasul Allah Swt.

Mereka akan selalu menjauhi sikap dan perbuatan yang bertentangan dengan rasul itu sendiri.

Setiap rasul itu memiliki masa masing-masing, sehingga berlakunya ajaran satu rasul tergantung apakah sudah ada rasul selanjutnya atau belum. Akan tetapi kerasulan Muhammad saw merupakan rasul terakhir yang tidak aka ada lagi rasul setelah beliau (Muhammad saw). Oleh karena itu nabi-nabi palsu merupakan nabi yang patut dihentikan kegiatannya karena telah keluar dari Islam.

  1. Sifat-sifat rasul

Setiap rasul mempunyai sifat yang baik yaitu sifat yang pasti ada pada dirinya. Diantara sifat-sifat rasul yang wajib ada adalah :

  1. Fatonah, artinya cerdas
  2. Amanah, artinya dapat dipercaya
  3. Tabligh, menyampaikan segala yang telah disampaikan oleh Allah Swt
  4. Sidik, artinya benar para rasul
  1. Hikmah dan aplikasi

Dengan meyakini dan mengimani rasul-rasul Allah Swt, maka akan didapatkan beberapa hikmah dan manfaat :

-         Telah melaksanakan rukun iman yang ke empat dan mendapatkan kebajikan

-         Sampainya segala pesan Allah Swt kepada kita

-         Dapat mencontoh sifat, sikap dan perbuatan rasul tersebut

BAB IV

MEMBIASAKAN PERILAKU TERPUJI

(TAUBAT dan RAJA’)

Taubat

  1. Pengertian taubat

Yang dimaksud dengan taubat masa sekarang: meninggalkan secara langsung dosa yang sedang dilakukan. Adapun taubat masa yang akan datang: bertekad untuk tidak melakukan kembali .

Taubat ada tiga macam: Taubat umum (‘Am), taubat khusus Khâsh, dan taubat paling khusus (khawwâshul khawwâsh).
Taubat umum adalah taubat dari maksiat, yaitu taubat orang-orang yang bermaksiat.
Taubat khusus adalah taubat dari taubat umum, taubat ini adalah taubatnya para Nabi terdahulu.
Taubat paling khusus adalah taubat dari perhatian terhadap selain Allah swt, ini adalah taubatnya Rasulullah saw dan Ahlul bait (sa). Jadi taubat mereka adalah kembali kepada Allah dari pandangan kepada selain Allah. Istilah taubat ini dikenal di kalangan ahli suluk.

Syarat-syarat taubat

1. Menyesal atas segala perbuatan dosa yang pernah dilakukan.

2. Mensucikan din dan perbuatan maksiat yang sudah dilakukan. Kerana tidak ada ertinya bertaubat jika dosa masih terus dikerjakan.

3. Bertekad dengan sungguh-sungguh bahawa tidak akan mengulanginya lagi, selama hayat dikandung badan, sampai mengucapkan selamat tinggal pada dunia yang fana ini.

Syarat diterimanya taubat yaitu:

  1. Ikhlas. Artinya, taubat pelaku dosa harus ikhlas semata-mata karena Allah, bukan karena lainnya.
  2. Menyesali dosa yang telah diperbuatnya.
  3. Meninggalkan sama sekali maksiat yang telah dilakukannya.
  4. Tidak mengulangi. Artinya, seorang muslim harus bertekad tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut.
  5. Istighfar. Yaitu memohon ampun kepada Allah atas dosa yang dilakukan terhadap hakNya.
  6. Memenuhi hak bagi orang-orang yang berhak, atau mereka melepaskan haknya tersebut.
  7. Waktu diterimanya taubat itu dilakukan di saat hidupnya, sebelum tiba ajalnya. Sabda Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam : “Sesungguhnya Allah akan menerima taubat seorang hambaNya selama belum tercabut nyawanya.” (HR. At-Tirmidzi, hasan).
  1. Contoh perilaku taubat

Diantara contoh dan tanda orang yang bertaubat adalah : Lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu disebabkan takut terjerumus lagi ke dalam dosa. Selain itu orang yang bertaubat akan lebih giat beramal karena merasa khawatir dosanya belum diampuni oleh Allah Swt.

D.  Membiasakan taubat dalam kehidupan sehari-hari

Taubat itu dilakukan setiap kita melakukan dosa, akan tetapi tentunya dosa yang berbeda. Bahkan kita harus bertaubat kepada Allah setiap saat karena mungkin saja ada dosa yang tidak terasa kita lakukan sehingga memerlukan pembersihan atau taubat.

Raja’

  1. Pengertian raja’

Roja’ berarti mengharapkan sesuatu dari Allah swt. Ketika berdo’a maka kita harus penuh harap bahwa do’a kita akan dikabul oleh Allah Swt.

  1. 1. Peranan roja’
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Ketahuilah sesungguhnya penggerak hati menuju Allah ‘azza wa jalla ada tiga: Al-Mahabbah (cinta), Al-Khauf (takut) dan Ar-Rajaa’ (harap). Yang terkuat di antara ketiganya adalah mahabbah. Sebab rasa cinta itulah yang menjadi tujuan sebenarnya. Hal itu dikarenakan kecintaan adalah sesuatu yang diharapkan terus ada ketika di dunia maupun di akhirat. Berbeda dengan takut. Rasa takut itu nanti akan lenyap di akhirat (bagi orang yang masuk surga, pent). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Ketahuilah, sesungguhnya para wali Allah itu tidak ada rasa takut dan sedih yang akan menyertai mereka.” (QS. Yunus: 62) Sedangkan rasa takut yang diharapkan adalah yang bisa menahan dan mencegah supaya (hamba) tidak melenceng dari jalan kebenaran. Adapun rasa cinta, maka itulah faktor yang akan menjaga diri seorang hamba untuk tetap berjalan menuju sosok yang dicintai-Nya. Langkahnya untuk terus maju meniti jalan itu tergantung pada kuat-lemahnya rasa cinta.
  2. 2. Roja’ yang terpuji
    Syaikh Al ‘Utsaimin berkata: “Ketahuilah, roja’ yang terpuji hanya ada pada diri orang yang beramal taat kepada Allah dan berharap pahala-Nya atau bertaubat dari kemaksiatannya dan berharap taubatnya diterima, adapun roja’ tanpa disertai amalan adalah roja’ yang palsu, angan-angan belaka dan tercela.” (Syarh Tsalatsatu Ushul, hal. 58)
  3. 3. Roja’ adalah ibadah
    Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Orang-orang yang diseru oleh mereka itu justru mencari jalan perantara menuju Rabb mereka siapakah di antara mereka yang bisa menjadi orang paling dekat kepada-Nya, mereka mengharapkan rahmat-Nya dan merasa takut dari siksa-Nya.” (QS. al-Israa’: 57) Allah menceritakan kepada kita melalui ayat yang mulia ini bahwa sesembahan yang dipuja selain Allah oleh kaum musyrikin yaitu para malaikat dan orang-orang shalih mereka sendiri mencari kedekatan diri kepada Allah dengan melakukan ketaatan dan ibadah, mereka melaksanakan perintah-perintah-Nya dengan diiringi harapan terhadap rahmat-Nya dan mereka menjauhi larangan-larangan-Nya dengan diiringi rasa takut tertimpa azab-Nya karena setiap orang yang beriman tentu akan merasa khawatir dan takut tertimpa hukuman-Nya
  4. 4. Roja’ yang disertai dengan ketundukan dan perendahan diri
    Syaikh Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Roja’ yang disertai dengan perendahan diri dan ketundukan tidak boleh ditujukan kecuali kepada Allah ‘azza wa jalla. Memalingkan roja’ semacam ini kepada selain Allah adalah kesyirikan, bisa jadi syirik ashghar dan bisa jadi syirik akbar tergantung pada isi hati orang yang berharap itu…” (Syarh Tsalatsatu Ushul, hal. 58)
  5. 5. Mengendalikan roja’

Sebagian ulama berpendapat: “Seyogyanya harapan lebih didominasikan tatkala berbuat ketaatan dan didominasikan takut ketika muncul keinginan berbuat maksiat.” Karena apabila dia berbuat taat maka itu berarti dia telah melakukan penyebab tumbuhnya prasangka baik (kepada Allah) maka hendaknya dia mendominasikan harap yaitu agar amalnya diterima. Dan apabila dia bertekad untuk bermaksiat maka hendaknya ia mendominasikan rasa takut agar tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat.

Sebagian yang lain mengatakan: “Hendaknya orang yang sehat memperbesar rasa takutnya sedangkan orang yang sedang sakit memperbesar rasa harap.” Sebabnya adalah orang yang masih sehat apabila memperbesar rasa takutnya maka dia akan jauh dari perbuatan maksiat. Dan orang yang sedang sakit apabila memperbesar sisi harapnya maka dia akan berjumpa dengan Allah dalm kondisi berbaik sangka kepada-Nya. Adapun pendapat saya sendiri dalam masalah ini adalah: hal ini berbeda-beda tergantung kondisi yang ada. Apabila seseorang dikhawatirkan dengan lebih condong kepada takut membuatnya berputus asa dari rahmat Allah maka hendaknya ia segera memulihkan harapannya dan menyeimbangkannya dengan rasa harap. Dan apabila dikhawatirkan dengan lebih condong kepada harap maka dia merasa aman dari makar Allah maka hendaknya dia memulihkan diri dan menyeimbangkan diri dengan memperbesar sisi rasa takutnya. Pada hakikatnya manusia itu adalah dokter bagi dirinya sendiri apabila hatinya masih hidup. Adapun orang yang hatinya sudah mati dan tidak bisa diobati lagi serta tidak mau memperhatikan kondisi hatinya sendiri maka yang satu ini bagaimanapun cara yang ditempuh tetap tidak akan sembuh.” (Fatawa Arkanil Islam, hal. 58-59)

BAB V

MENGHARGAI HASIL KARYA ORANG LAIN

BAB VI

PERADABAN ISLAM ABAD PERTENGAHAN

Kategori:Uncategorized

buat pak sukardi

menurut UU Perkawinan bahwa: Pernikahan itu sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu dan sah jika dicatat menurut UU yang berlaku….. calon mempelai harus satu agama/keyakinan. dalam kasus panjenengan, si istri harus membuat SURAT PERNYATAAN bahwa telah memeluk agama Islam (blangkonya ada di KUA) yang ditandatangani yang bersangkutan dan diketahui: BOLEH tokoh agama/Ormas…setelah itu dilakukan sesuai prosedur perkawinan biasa…..terima kasih semoga bermanfaat……

Kategori:Uncategorized

welcome

selamat datang para siswa / taruna, selamat berpetualang di dunia maya. ingat!!! JAGA MORALMU …!!!!

Kategori:Uncategorized
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.